FLASH UPDATE #1 ERUPSI GUNUNG ANAK KRAKATAU, HUJAN ABU VULKANIK, SERTA SITUASI KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN (KARHUTLA) DAN KABUT ASAP YANG BERLANGSUNG BERSAMAAN
Daftar Isi
ToggleInformasi Penting
Gunung Anak Krakatau beradai Level III (SIAGA/Alert).
3km radius pengecualian dari kawah aktif.
Sebanyak 33 penerbangan yang terpengaruh di bandara Soekarno Hatta.
Sebanyak 10,67 juta orang dilaporkan terdampak oleh Karhutla dari 7 provinsi.
(Kemenkes mendefinisikan ini sebagai populasi ang terdampak di tujuh provinsi; ini tidak boleh diartikan sebagai orang yang membutuhkan bantuan kemanusiaan).
Secara kumulatif, terdapat 13.449 kasus ARI/ISPA (Kemenkes, 27 Agustus).
Terdapat 818 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional (4 Sep, 21:15 WIB).
- Gambaran Situasi
Anak Krakatau berada pada Level III (SIAGA/Alert). PVMBG/Badan Geologi melaporkan bahwa gunung berapi tersebut tetap berada di Level III sejak 2 Juli 2026. Serangkaian letusan Strombolian berlanjut hingga 5 September, menghasilkan material pijar, abu vulkanik, dan aktivitas semburan lava yang berkelanjutan. PVMBG merekomendasikan agar masyarakat, pengunjung, dan wisatawan tidak mendekati atau melakukan aktivitas dalam radius 3 km dari kawah aktif.
Abu vulkanik telah mencapai daerah berpenduduk di luar wilayah terdekat dari gunung berapi tersebut. Hujan abu vulkanik telah dilaporkan secara resmi di wilayah pesisir Banten dan abu vulkanik terdeteksi di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Selain itu, IHCP telah menerima pengamatan lapangan yang dikonfirmasi mengenai abu vulkanik di Jakarta, Depok, dan Bogor pada pagi hari tanggal 6 September. Pada saat pembaruan ini, IHCP belum menemukan publikasi resmi BMKG/PVMBG yang mendefinisikan jejak hujan abu vulkanik di permukaan tanah secara lengkap di ketiga kota tersebut; oleh karena itu, cakupan geografis, konsentrasi, dan durasi hujan abu vulkanik memerlukan verifikasi resmi yang berkelanjutan.
Tidak ada ancaman tsunami yang teridentifikasi dalam skenario letusan saat ini. Pada tahun 2018, tsunami terjadi akibat aktivitas gunung berapi tersebut. Namun, BNPB, mengutip penilaian PVMBG, melaporkan bahwa struktur Anak Krakatau pasca-2018 tetap relatif kecil dan tidak dianggap mampu runtuh dalam skala yang cukup besar untuk menghasilkan tsunami dalam kondisi saat ini. Pemantauan terus dilakukan dan masyarakat pesisir harus terus mengikuti instruksi resmi. - Gangguan di Sektor Penerbangan
Bandara Internasional Soekarno-Hatta ditutup sementara karena abu vulkanik. Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil melaporkan bahwa uji kertas yang dilakukan pada tanggal 6 September antara pukul 00:35 dan 01:05 WIB menunjukkan adanya abu vulkanik di bandara. Berdasarkan NOTAM A3341/26, bandara awalnya ditutup dari pukul 01:30 hingga 05:30 WIB. Pemantauan Kemenhub hingga 5 September pukul 22:00 WIB mencatat 33 penerbangan yang terpengaruh: 16 pembatalan penerbangan internasional, 7 penundaan penerbangan internasional, 5 penjadwalan ulang penerbangan internasional, 4 pembatalan penerbangan domestik, dan 1 pengalihan penerbangan domestik.
Laporan media selanjutnya menunjukkan bahwa penutupan mungkin telah diperpanjang hingga pukul 09:30 WIB. IHCP belum menemukan pernyataan resmi dari Kemenhub/AirNav yang mengkonfirmasi perpanjangan tersebut pada saat informasi tersebut disampaikan. Penumpang dan petugas tanggap darurat harus memverifikasi status bandara dan penerbangan terkini secara langsung dengan otoritas penerbangan dan maskapai penerbangan resmi. - Kekhawatiran Kesehatan Masyarakat
Abu vulkanik dapat mengiritasi saluran pernapasan, mata, dan kulit. Penderita asma atau kondisi pernapasan kronis lainnya, anak-anak, lansia, wanita hamil, dan orang yang bekerja di luar ruangan mungkin menghadapi risiko kesehatan yang lebih tinggi akibat paparan abu. Komunikasi risiko harus menekankan pengurangan paparan di luar ruangan selama hujan abu, penggunaan masker yang tepat, perlindungan mata, melindungi makanan dan air dari kontaminasi abu, dan mencari perawatan medis jika mengalami kesulitan ber napas, batuk terus-menerus, iritasi mata yang parah, atau gejala pernapasan kronis yang memburuk. - Situasi Kebakaran Hutan dan Lahan serta Kabut Asap Secara Bersamaan
Indonesia secara bersamaan menanggapi kebakaran hutan dan lahan yang signifikan (karhutla) serta kabut asap. Menurut Laporan Situasi Kementerian Kesehatan per tanggal 27 Agustus 2026, karhutla telah mempengaruhi 10.674.201 orang di 63 kabupaten/kota di tujuh provinsi: Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan. Kemenkes mencatat 13.449 kasus kumulatif ARI/ISPA, termasuk 4.082 kasus yang dilaporkan pada tanggal 27 Agustus. Tidak ada kematian atau pengungsian yang tercatat dalam pembaruan kesehatan tersebut.
Pemantauan hotspot: SiPongi/Kementerian Kehutanan mendeteksi 818 titik api dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional pada tanggal 4 September pukul 21:15 WIB. Di antara enam provinsi prioritas, jumlah tertinggi berada di Kalimantan Tengah (252), Sumatera Selatan (165) dan Kalimantan Barat (124), diikuti oleh Jambi (14), Riau (13) dan Kalimantan Selatan (4). Kemenhut menekankan bahwa titik api adalah anomali termal yang terdeteksi satelit dan tidak berhubungan langsung dengan kebakaran yang telah dikonfirmasi.
Peringatan kabut asap regional: Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASMC) terus mempertahankan Level Siaga 3 untuk Kawasan ASEAN Selatan, yang menunjukkan risiko tinggi terjadinya kabut asap lintasbatas yang parah. ASMC melaporkan kabut asap sedang hingga tebal di sebagian Kalimantan dan Sumatra dan memperkirakan kondisi kering dan penguatan kondisi El Nino akan mempertahankan risiko yang tinggi. - Area Kebakaran Hutan dan Lahan yang Dilaporkan
Laporan terbaru BNPB tanggal 5 September mengidentifikasi enam provinsi prioritasuntuk responsterhadap kebakaran Karhutla dan juga melaporkan kebakaran baru-baru ini di luar provinsi-provinsi tersebut. Tabel di bawah ini merangkum area operasional yang dilaporkan dan insiden terbaru; tabel ini tidak boleh diartikan sebagai inventaris nasional lengkap dari semua kebakaran aktif.
Provinsi | Area yang dilaporkan/prioritas | Catatan |
Riau | 10 kabupaten dan 2 kota; operasi terkini dilakukan di Pelalawan dan Bengkalis. | Menurut BNPB, sekitar 18.882,16 ha lahan terbakar sejak 1 Januari hingga 4 September. |
Sumatera Selatan | Ogan Komering Ilir, Banyuasin, Musi Banyuasin; serta Muara Enim, OKU Timur, Ogan Ilir, Musi Rawas, dan Musi Rawas Utara. | Pemetaan prioritas dan operasi penanggulangan sedang berlangsung. |
Jambi | Menjadi prioritas provinsi; Kabupaten Tanjung Jabung Timur berstatus siaga darurat. | Konsentrasi titik-titik panas tetap dipantau. |
Central Kalimantan | Kotawaringin Timur, Kapuas, Sukamara, Barito Timur, Seruyan, Palangka Raya, Kotawaringin Barat, Lamandau, Barito Utara, Gunung Mas, dan Barito Selatan. | Status kesiapsiagaan darurat provinsi tetap berlaku. |
South Kalimantan | Barito Kuala dan Banjar, disertai dengan operasi di tingkat provinsi. | Status kesiapsiagaan darurat kekeringan dan Karhutla telah diberlakukan. |
West Kalimantan | Kubu Raya, Mempawah, Sanggau, Kayong Utara, Melawi, Sintang, Ketapang, Landak | Operasi tanggap darurat dan pengendalian kebakaran tingkat provinsi sedang berlangsung. |
Bangka Belitung Islands | Belitung Timur: Buding, Padang, Sukamandi; Bangka Barat: Air Putih, Sungai Daeng, Air Belo, Tanjung | Insiden kebakaran baru-baru ini yang dilaporkan oleh BNPB; pemadaman telah selesai di lokasi yang dilaporkan. |
Kalimantan Utara | Bulungan: Mangkupadi dan Tanjung Selor Timur | Insiden baru-baru ini telah dilaporkan; upaya pemadaman dan pendinginan telah dilakukan. |
Jawa Timur | Ponorogo: Gunung Wari, Bungkal | Insiden baru-baru ini dilaporkan; api telah dipadamkan. |
Central Sulawesi | Tojo Una-Una : Kawasan Gunung Kendeng, meliputi Malotong, Sukamaju dan Balingara | Dilaporkan oleh BNPB masih dalam proses penanganan dalam pembaruan terbaru. |
6. Pertimbangan Kemanusiaan
Saat ini Indonesia sedang mengelola dua ancaman udara yang terjadi secara bersamaan dengan asal dan cakupan geografis yang berbeda. Abu vulkanik dari Anak Krakatau mempengaruhi sebagian wilayah Banten dan telah teramati melalui sumber IHCP/jaringan di Jakarta, Depok, dan Bogor, sementara kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan mempengaruhi populasi di sebagian wilayah Sumatera dan Kalimantan. Abu vulkanik dan asap karhutla tidak boleh dianggap sebagai bahaya kualitas udara yang sama; keduanya berbeda dalam karakteristik partikel, sistem pemantauan, pola penyebaran, dan langkah-langkah perlindungan.
- Perlindungan dan pengawasan kesehatan: memantau gejala pernapasan, mata, dan kulit; memburuknya penyakit pernapasan kronis; dan akses terhadap tindakan perlindungan yang
- Komunikasi risiko dan keterlibatan masyarakat: berikan informasi yang spesifik secara geografis, mudah diakses, dan terverifikasi; bedakan panduan terkait abu vulkanik dari panduan terkait karhutla/kabut
- Kelompok yang menghadapi paparan atau hambatan lebih tinggi: prioritaskan anak-anak, lansia, wanita hamil, orang dengan kondisi pernapasan/kardiovaskular, penyandang disabilitas, dan pekerja luar
- Keberlangsungan layanan penting: memantau dampak pada penerbangan, pendidikan, layanan kesehatan, mata pencaharian, dan
- Koordinasi dan manajemen informasi: mengkonsolidasikan informasi dampak dan respons yang telah divalidasi sambil menghindari duplikasi, terutama jika kebutuhan kesehatan dan bantuan perlindungan meningkat.
Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi Sekretariat IHCP:
– Avianto Amri, avianto.amri@gmail.com,Telepon: 0855-2106-610
– Ridwan C. Sobri, ridwan_sc@pmi.or.id,Telepon: 0821-1191-6892
– Sandrina Miranda Simon, ihcp.sekretariat@gmail.com, 0877-8838-8123