TIBA WAKTUNYA KEMUDI DISERAHKAN:

PELOKALAN DENGAN SUNTIKAN STEROID DI

INDONESIA

Ditulis dalam bahasa Inggris oleh: Dr. Avianto Amri (Ketua MPBI – Ketua Bersama IHCP)
Dialihbahasakan oleh: Ignasio Romero (Sekretariat IHCP)

Setiap kali saya menceritakan transformasi yang melahirkan Indonesia Humanitarian Coordination Platform (IHCP), saya memulainya dengan sebuah gambar: sebuah Ferrari dan sebuah truk.

Selama bertahun-tahun, ekosistem koordinasi kemanusiaan Indonesia berpusat pada Humanitarian Country Team (HCT). Dalam berbagai hal, HCT dapat dilihat sebagai sebuah Ferrari. Sebuah mesin yang bekerja secara luar biasa, hasil karya yang mewah, dirancang dengan rinci selama bertahun-tahun. Sebuah mesin yang canggih, mampu melaju kencang dan lincah. Sebuah mesin yang dibalik kegagahannya tetap nampak indah. Semua orang ingin merasakan pengalaman mengendarainya.

Pengemudi Ferrari dari masa ke masa tetaplah sama: sistem kemanusiaan internasional yang dipimpin oleh UN OCHA. Penumpangnya kebanyakan adalah aktor internasional: Badan PBB, gerakan palang merah, dan terkadang OMS internasional ternama.

Sebagai lembaga kemanusiaan lokal, banyak dari kita melihat partisipasi dalam HCT sebagai sebuah keistimewaan/ privilese. Terkadang kita cukup beruntung untuk dapat duduk di dalam Ferrari tersebut, menikmati sensasi kecanggihannya dari kursi penumpang. Hanya saja, selama ini kita tetap menjadi penumpang, bukan pengemudinya. Kita tidak pernah mendapat akses untuk duduk di balik kemudi Ferrari.

Akan tetapi, hampir dalam sekejap, arsitektur/ sistem kemanusiaan berubah.

Arsitektur kemanusiaan global mulai mendapat tekanan: penurunan pendanaan, ketegangan geopolitik, krisis global yang datang silih berganti, restrukturisasi institusional, serta meningkatnya tanda tanya seputar keberlangsungan usaha kemanusiaan internasional. Pada waktu yang sama, agenda pelokalan yang telah acap kali dibahas dalam berbagai ruang diskusi, policy paper, dan komitmen donor, mulai semakin terasa nyata.

Hingga datang waktunya yang telah diantisipasi oleh aktor lokal selama bertahun-tahun, namun mungkin segelintir yang betul-betul siap. “Ini saatnya kalian mengambil alih kemudi”, begitu dikatakan kepada aktor lokal. Bukan kemudi Ferrari, melainkan sebuah truk berbadan besar.

Sebuah truk yang membawa ratusan lembaga, dengan berbagai mandat, prioritas yang saling silang, diselingi kompleksitas dinamika di tingkat lokal, ekspektasi terhadap pengoperasiannya, serta tanggung jawab yang sangat besar. Tidak seperti Ferrari sebelumnya, alih-alih bersifat eksklusif, truk ini dirancang untuk mendukung inklusivitas.

Seluruh aktor kemanusiaan diharapkan dapat naik: lembaga kemanusiaan lokal, lembaga berlatar belakang keagamaan, lembaga-lembaga perempuan, lembaga disabilitas, jaringan profesional, sukarelawan, unsur akademisi, perespon lokal, lembaga berbasis komunitas, sektor swasta serta mitra pemerintah.

Serta merta, lembaga/ jejaring seperti Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI) dan Palang Merah Indonesia (PMI), diminta untuk duduk di belakang kemudi, tidak hanya ikut serta dalam truk tapi diharapkan dapat memimpin dan mengemudikannya.

Transisi tersebut tidak berjalan mulus. Saat kemudi diserahkan, banyak di antara kita yang bertanya:

  • Bagaimana kita mengemudikan benda ini?
  • Bagaimana kita merawatnya?
  • Bagaimana cara untuk memastikan bahan bakarnya terjamin?
  • Cara kerja seperti apa yang diperlukan?
  • Siapa yang akan menanggung segala risiko?
  • Apa yang akan terjadi jika ada kesalahan?

Ini merupakan kenyataan pahit yang kita hadapi dalam transisi yaitu bahwa banyak aktor, termasuk rekan-rekan internasional kita belum sepenuhnya memahami juga jawaban dari segala pertanyaan yang muncul. Hal ini dikarenakan selama beberapa dekade lamanya, arsitektur kemanusiaan global telah didesain sedemikian rupa untuk ‘beroperasinya sebuah Ferrari’.

Oleh karenanya, saya sering bercanda bahwa proses terbentuknya IHCP ini semacam pelokalan dengan suntikan steroid. Bukan karena prinsip pelokalan itu salah akan tetapi sebaliknya, pelokalan adalah hal yang penting, sudah lama dibahas dan diperjuangkan serta secara moral merupakan langkah yang tepat. Namun, fakta yang terjadi di Indonesia berbeda karena proses transisi yang luar biasa cepat.

Selama bertahun-tahun, aktor lokal di berbagai belahan dunia memperjuangkan peran kepemimpinan yang lebih besar, kepercayaan yang lebih kuat, serta ruang pengambilan keputusan yang lebih bermakna. Sayangnya, diskusi mengenai pelokalan sering kali berputar-putar dalam satu lingkaran. Retorika yang terjadi menguat, akan tetapi perpindahan kekuasaan yang sesungguhnya berjalan dengan lambat. Banyak pihak mengatakan dukungan terhadap pelokalan secara prinsip, namun masih ragu ketika harus benar-benar berbagi kepemimpinan, sumber daya, kendali, apa lagi risiko.

Indonesia mengalami dinamika yang berbeda.

Aktor lokal di Indonesia tidak melalui transisi bertahap dari penumpang menjadi pengemudi melalui proses pendampingan dan pemberian pedoman yang dirancang secara hati-hati dengan periode yang panjang. Dengan kata lain, aktor lokal di Indonesia tiba-tiba berada di balik kemudi dan dituntut untuk mengendalikan truk yang diberikan, bahkan ketika kita masih belajar memahami cara kerja mesinnya.

Dan kita dituntut untuk tetap bergerak, melaju dengan cepat. Terlebih, karena transisi ini datang pada saat yang menantang.

Di tengah ketidakpastian pendanaan dan tekanan kelembagaan yang sedang dihadapi banyak organisasi kemanusiaan internasional, termasuk sebagian lembaga dalam sistem PBB (arus diskusinya sering kita kenal sebagai humanitarian reset), aktor-aktor lokal pada saat yang sama dituntut untuk memperkuat koordinasi, menjaga kredibilitas operasional, memastikan akuntabilitas, serta mempertahankan kepemimpinan kemanusiaan di tingkat nasional.

Di tengah tantangan yang silih berganti, sesuatu yang luar biasa terjadi. Orang-orang hadir, lembaga-lembaga bersatu, dan kepercayaan mulai bertumbuh.

IHCP tidak berkembang dalam ruang hampa. Meskipun transisi menuju koordinasi yang dipimpin secara nasional diwarnai dengan ketidakpastian, banyak organisasi dan individu yang melangkah maju untuk mendukung dan memperkuat platform ini pada tahap-tahap awal perkembangannya. Kami menyampaikan apresiasi yang mendalam atas dukungan, solidaritas, dan kemitraan dari berbagai rekan di komunitas kemanusiaan, termasuk UN OCHA Indonesia, Penabulu, PKPA, Humanitarian Forum Indonesia, Save the Children Indonesia, Mercy Corps Indonesia, CBM Global, dan UNICEF Indonesia. Kontribusi mereka (dalam bentuk dukungan teknis, pendampingan, advokasi, kolaborasi operasional, maupun kesediaan untuk berjalan bersama aktor-aktor lokal selama masa transisi ini), sangat berarti dalam membantu IHCP berkembang menjadi platform seperti yang kita kenal saat ini.

IHCP lahir bukan karena situasi yang ideal dan mendukung, melainkan justru karena kami menyadari bahwa Indonesia tidak lagi memiliki kemewahan untuk menunggu kondisi yang sempurna. Apa yang bermula sebagai sebuah transisi yang penuh ketidakpastian, perlahan berkembang menjadi salah satu platform koordinasi kemanusiaan yang dipimpin secara lokal terbesar di Indonesia. Hingga Mei 2026, IHCP menghimpun sekitar 80 organisasi anggota yang terdiri dari organisasi masyarakat sipil nasional dan lokal, badan-badan PBB, organisasi Palang Merah, perguruan tinggi dan lembaga pemikir, sektor swasta, serta organisasi non-pemerintah internasional. Platform ini juga bekerja erat dengan berbagai mitra pemerintah, khususnya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), serta kementerian dan lembaga lainnya melalui mekanisme koordinasi klaster yang telah ada. Meskipun masih terus berkembang, IHCP mencerminkan sebuah pergeseran penting menuju ekosistem koordinasi kemanusiaan yang lebih kolaboratif dan berakar kuat pada kapasitas nasional.

Sebagai aktor lokal, ada satu hal yang kami pahami dengan sangat jelas:

Kami bukanlah aktor sementara dalam respons kemanusiaan. Kami tidak diutus ke Indonesia untuk jangka waktu tertentu. Kami hidup di sini. Ketika bencana terjadi, kami tidak meninggalkan lokasi setelah enam bulan. Kami tetap berada di sini, jauh setelah perhatian internasional beralih ke tempat lain. Kami hadir sebelum bencana terjadi, selama masa tanggap darurat, hingga proses pemulihan berlangsung.

Sayangnya, sebagai negara yang sangat rentan terhadap bencana, kami memahami bahwa akan selalu ada keadaan darurat berikutnya yang membutuhkan aksi kolektif.

Realitas tersebut terlihat dengan sangat nyata dalam respons terhadap Siklon Tropis Senyar pada November 2025 yang berdampak pada Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat—salah satu bencana paling kompleks dan luas yang dihadapi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Skala respons yang dibutuhkan menuntut koordinasi lintas tiga provinsi dan 52 kabupaten/kota, dengan lebih dari dua juta orang terdampak dan ratusan organisasi yang terlibat dalam penyaluran bantuan. Tekanan operasional yang dihadapi sangat besar.

Namun, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa koordinasi kemanusiaan yang dipimpin secara lokal adalah sesuatu yang mungkin diwujudkan. Mungkin belum sempurna. Tidak mudah. Tetapi sangat mungkin dilakukan.

Respons tersebut dapat terlaksana berkat kepercayaan, solidaritas, dan dukungan dari berbagai mitra. Kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada organisasi dan institusi yang percaya pada perjalanan ini, termasuk Oxfam, Penabulu Foundation, Network for Empowered Aid Response (NEAR), Pemerintah Australia, dan Pemerintah Swiss.

Dukungan yang diberikan tidak semata-mata berupa pendanaan.

Yang lebih penting, dukungan yang diberikan menunjukkan kepercayaan terhadap kepemimpinan lokal.

Dan kepercayaan itu sangat berarti.

Karena pelokalan bukan sekadar memindahkan tanggung jawab kepada aktor lokal sementara kendali tetap berada di tempat lain. Pelokalan yang sejati berarti berbagi kekuasaan, berbagi risiko, berbagi sumber daya, serta berinvestasi dalam penguatan kapasitas kelembagaan jangka panjang.

Di sinilah komunitas kemanusiaan global saat ini menghadapi sebuah pilihan penting.

Jika dunia benar-benar percaya pada agenda pelokalan, maka platform koordinasi lokal seperti IHCP tidak dapat diperlakukan sebagai eksperimen sementara atau inisiatif simbolis semata. Platform-platform seperti ini harus diperkuat secara serius, berkelanjutan, dan sebagai bagian integral dari masa depan sistem kemanusiaan.

Itu artinya, gerakan ini memerlukan:

  • Investasi yang berkelanjutan
  • Penguatan kelembagaan
  • Dukungan operasional
  • Pendanaan untuk fungsi koordinasi
  • Pengembangan kepemimpinan
  • Sistem manajemen informasi
  • Mekanisme akuntabilitas
  • Pendampingan jangka panjang

Membangun sebuah platform koordinasi kemanusiaan yang dipimpin secara nasional bukanlah pekerjaan yang murah, bukan pula pekerjaan yang sederhana. Pergerakan ini tidak mungkin akan bertahan hanya dengan mengandalkan niat baik serta semangat kerelawanan. Truk ini membutuhkan bahan bakar, mekanik, dan infrastruktur yang berkelanjutan. Yang terpenting, truk ini membutuhkan orang-orang yang bersedia tetap berjalan bersama di jalan yang panjang dan penuh tantangan.

Sepuluh tahun setalah World Humanitarian Summit 2016, saya tetap optimis. Optimis karena di tengah berbagai keterbatasan, komunitas masyarakat  sipil Indonesia terus menunjukkan solidaritas yang luar biasa. Optimis karena semakin banyak organisasi yang bersedia berkolaborasi melampaui ego dan kepentingan kelembagaan masing-masing. Optimis karena masyarakat terdampakn sendiri terus menunjukkan ketangguhan, kepedulian dan semangat saling membantu dalam menghadapi krisis. Dan optimis karena IHCP merepresentasikan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah platform koordinasi. IHCP merepresentasikan sebuah pergeseran dalam sejarah kemanusiaan. Sebuah pengakuan bahwa aktor-aktor lokal bukan hanya pelaksana aksi kemanusiaan, melainkan juga perancang, pengarah dan pemilik masa depannya.

Masih banyak pihak yang perlu diyakinkan, banyak sistem yang perlu diperbaiki, panjang jala yang harus ditempuh. Akan tetapi satu hal yang pasti, IHCP akan tetap ada, IHCP adalah aktor lokal dan IHCP tidak akan beranjak kemana-mana.

Ditulis untuk laman Humanitarian Advisory Group (HAG) Australia

Rujukan laman: https://humanitarianadvisorygroup.org/when-the-keys-were-handed-over-localisation-on-steroids-in-indonesia/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *